Thy Word

posted in: Sermon | 0

Mazmur 119:105-112 | Pdt. Paulus Surya

Nun

105   Your word is a lamp to my feet
    and a light to my path.
106   I have sworn an oath and confirmed it,
    to keep your righteous rules.
107   I am severely afflicted;
    give me life, O LORD, according to your word!
108   Accept my freewill offerings of praise, O LORD,
    and teach me your rules.
109   I hold my life in my hand continually,
    but I do not forget your law.
110   The wicked have laid a snare for me,
    but I do not stray from your precepts.
111   Your testimonies are my heritage forever,
    for they are the joy of my heart.
112   I incline my heart to perform your statutes
    forever, to the end.

“FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (ayat 105). Apa artinya Firman Tuhan digambarkan sebagai pelita dan terang?

Pegangan Hidup
“Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukumMu yang adil.” (ayat 106). Sedikitnya penulis Mazmur 119 ini menyebutkan 20 kali untuk hidup berpegang pada Firman Tuhan. Hidup berpegang pada Firman Tuhan secara sempurna ditunjukkan oleh Tuhan Yesus, khususnya saat Ia dicobai oleh Iblis. Dalam Dia, kita akan dimampukan untuk berpegang pada FirmanNya.

Kekuatan Pada Masa Sulit
Di ayat 107-108, kita dapat melihat bahwa Firman Tuhan adalah kekuatan bagi orang percaya pada saat sulit, sehingga tetap dapat memuji Tuhan. Contohnya Daud saat dikejar-kejar
oleh Saul, ia mendapatkan kekuatan dari Firman Tuhan. Juga Rasul Paulus saat ia dipenjara (2 Timotius 4:13). Menghindarkan Dari Bahaya Di ayat 109-110, pemazmur menyatakan bahwa di tengah banyak jebakan yang dapat menjatuhkan dirinya dalam dosa atau bahaya, ia bersandar kepada Firman Tuhan. Dengan bersandar pada Firman Tuhan, kita dapat terhindar dari marabahaya di hidup ini.

Sumber Sukacita
“Peringatan-peringatanMu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.” (ayat 111-112). Pemazmur menganggap Firman Tuhan sebagai harta yang sangat berharga, yang menjadi sumber sukacitanya. Bagi kita orang percaya, sudah seharusnya kita juga bertumbuh di dalam menghargai Firman Tuhan, yang pusatnya berbicara tentang Yesus, sehingga sumber sukacita kita bukan pada hal yang lain.

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 18 April 202

Leave a Reply