The Gracious Hand of God

posted in: Sermon | 0

Neh 2:1-8 | Pdt. Paulus Surya

Nehemiah Sent to Judah (Listen)

In the month of Nisan, in the twentieth year of King Artaxerxes, when wine was before him, I took up the wine and gave it to the king. Now I had not been sad in his presence. And the king said to me, “Why is your face sad, seeing you are not sick? This is nothing but sadness of the heart.” Then I was very much afraid. I said to the king, “Let the king live forever! Why should not my face be sad, when the city, the place of my fathers’ graves, lies in ruins, and its gates have been destroyed by fire?” Then the king said to me, “What are you requesting?” So I prayed to the God of heaven. And I said to the king, “If it pleases the king, and if your servant has found favor in your sight, that you send me to Judah, to the city of my fathers’ graves, that I may rebuild it.” And the king said to me (the queen sitting beside him), “How long will you be gone, and when will you return?” So it pleased the king to send me when I had given him a time. And I said to the king, “If it pleases the king, let letters be given me to the governors of the province Beyond the River, that they may let me pass through until I come to Judah, and a letter to Asaph, the keeper of the king’s forest, that he may give me timber to make beams for the gates of the fortress of the temple, and for the wall of the city, and for the house that I shall occupy.” And the king granted me what I asked, for the good hand of my God was upon me.

Bagian ini pada intinya mengajarkan suatu kebenaran yang indah, yaitu bahwa tangan Allah yang murah menyertai orang yang berharap kepadaNya. Dalam hal apa saja tangan Allah yang murah menyertai orang yang berharap
kepadaNya?

Peduli terhadap kesedihan kita
Ayat 1-2 mencatat tentang Nehemia yang bertugas melayani raja Artahsasta dalam keadaan sedih. Kesedihannya sudah berlangsung sekitar 4 bulan, yaitu karena ia mendengar tentang kota Yerusalem yang hancur berantakan. Di sini kita bisa melihat bahwa Allah peduli terhadap kesedihan Nehemia dengan menggerakkan hati raja untuk memberi
perhatian kepadanya dan tidak marah.

Mengabulkan doa meskipun tampak mustahil
Ayat 3-6 mencatat tentang Nehemia yang berdoa sekali lagi kepada Allah tatkala raja Artahsasta bertanya tentang masalahnya. Setelah berdoa, ia meminta agar raja mengutus dirinya ke Yerusalem untuk membangun kota itu kembali. Ini permintaan yang mustahil secara manusia karena di Ezra 2 kita tahu bahwa larangan untuk membangun kota Yerusalem adalah dari raja Artahsasta sendiri. Namun demikian Tuhan merubah hati raja untuk mengabulkan permintaan Nehemia.

Mencukup kebutuhan kita yang hidup bagi Tuhan
Ayat 7-8 mencatat tentang kebutuhan Nehemia akan surat kuasa dari raja dan surat lainnya supaya ia bisa mendapatkan bahan-bahan untuk membangun kota Yerusalem, bait suci dan rumah yang akan ia diami. Tuhan
selalu akan memenuhi kebutuhan umatNya (bukan keinginan ) bukan hanya berlaku bagi Nehemia, tetapi juga
bagi setiap orang percaya yang berharap kepadaNya (Filipi 4:19).

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 27 Maret 2022