Living with Spiritual Maturity

posted in: Sermon | 0

1 Kor 3:1-9 | Bpk. Roy Sarmidi

Divisions in the Church (Listen)

But I, brothers, could not address you as spiritual people, but as people of the flesh, as infants in Christ. I fed you with milk, not solid food, for you were not ready for it. And even now you are not yet ready, for you are still of the flesh. For while there is jealousy and strife among you, are you not of the flesh and behaving only in a human way? For when one says, “I follow Paul,” and another, “I follow Apollos,” are you not being merely human?

What then is Apollos? What is Paul? Servants through whom you believed, as the Lord assigned to each. I planted, Apollos watered, but God gave the growth. So neither he who plants nor he who waters is anything, but only God who gives the growth. He who plants and he who waters are one, and each will receive his wages according to his labor. For we are God’s fellow workers. You are God’s field, God’s building.

Setiap kita yang sudah ada di dalam Kristus, seharusnya mempunyai perilaku yang sepadan dengan kematangan rohani kita. Firman Tuhan di bagian ini menegur kita yang sedang bertumbuh menjadi dewasa di dalam Kristus, seringkali kita menjalani hidup ini tidak dengan kedewasaan rohani. Jadi sikap apa saja yang seharusnya kita hindari supaya dapat menjalani hidup ini dengan kedewasaan rohani?

1. Kecenderungan untuk menuruti hawa nafsu kedagingan kita (ayat 1; 3-4)
Firman Tuhan di bagian ini bukan menegur bayi-bayi di dalam Kristus, tetapi menegur orang-orang yang seharusnya sudah semakin dewasa secara rohani tetapi masih berperilaku seperti bayi Kristen, dan masih cenderung untuk hidup menurut hawa nafsu kedagingan mereka. Setiap dari kita seharusnya memberi diri kita dipimpin oleh Roh Kudus agar dapat hidup menurut Roh dan menunjukkan kedewasaan rohani.

2. Keenganan untuk menerima kebenaran Injil secara lebih dalam (ayat 2)
Sikap jemaat di Korintus yang juga harus kita hindari adalah keengganan untuk menerima kebenaran Injil dengan lebih dalam lagi, dan penolakan kebenaran Injil sebagai makanan keras yang mengubah setiap aspek kehidupan mereka. Kebenaran Injil itu sangat dalam dan kaya, sehingga seorang yang dewasa rohani akan terus mempunyai kerinduan untuk lebih mendalami berita Injil agar dapat semakin menyerupai Kristus.

3. Keegoisan pikiran kita di dalam pelayanan (ayat 5-9)
Pikiran egois di dalam pelayanan itu sangat bertolak belakang dengan panggilan kita untuk memiliki pikiran Kristus (1 Kor 2:16), karena cenderung kepada “human-centered” dan “self-centered”. Sedangkan memilliki pikiran Kristus berarti kita mematikan ambisi pribadi kita, merendahkan diri kita dan memperhatikan kepentingan orang lain.

Ringkasan kotbah Bpk. Roy Sarmidi, 12 Juli 2020