God’s Messenger

posted in: Sermon | 0

Markus 1:2-8 | Pdt. Paulus Surya

As it is written in Isaiah the prophet,

  “Behold, I send my messenger before your face,
    who will prepare your way,
  the voice of one crying in the wilderness:
    ‘Prepare the way of the Lord,
    make his paths straight,’”

John appeared, baptizing in the wilderness and proclaiming a baptism of repentance for the forgiveness of sins. And all the country of Judea and all Jerusalem were going out to him and were being baptized by him in the river Jordan, confessing their sins. Now John was clothed with camel's hair and wore a leather belt around his waist and ate locusts and wild honey. And he preached, saying, “After me comes he who is mightier than I, the strap of whose sandals I am not worthy to stoop down and untie. I have baptized you with water, but he will baptize you with the Holy Spirit.”

Setiap orang percaya kepada Yesus pada dasarnya seperti Yohanes Pembaptis (YP) adalah utusan Allah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Kristus. YP adalah utusan Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus pertama kali. Sedangkan kita adalah utusan Allah untuk kedatangan Kristus kedua kalinya.

Seperti YP yang hidup secara benar sebagai utusan Allah, maka kita juga seharusnya menjalani hidup yang benar sebagai utusan Allah. Hidup yang benar sebagai utusan Allah adalah hidup yang seperti apa?

Knowing the purpose of life
Ayat 2-3 mencatat nubuat nabi Yesaya tentang utusan Allah yang akan mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias. Utusan Allah di sini adalah Yohanes Pembaptis. YP mengenali dirinya untuk hidup dengan tujuan sebagai utusan Allah ini. Tatkala ia ditanya oleh orang-orang Yahudi tentang siapakah dirinya, ia menjawab,”Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.” (Yoh 1:23). Bagaimana dengan kita? Apakah kita mengenali tujuan hidup kita, yaitu hidup bagi Tuhan dan kemuliaanNya? (lihat I Kor 10:31).

Faithful with the purpose of life
Ayat 4-6 mencatat bahwa dalam pelayanan Yohanes Pembaptis, “Seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem” datang kepadaNya. YP menjadi pengkhotbah terkenal saat itu, tapi ia tidak lupa diri. Ayat 6 mencatat bahwa YP tetap hidup secara sederhana. Ia mengenal siapa dirinya dan setia pada tujuan hidupnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita setia hidup bagi Tuhan dan menolak godaan dunia untuk hidup bagi diri kita sendiri?

Magnify Christ
Ayat 7-8 mencatat Yohanes Pembaptis sangat meninggikan Kristus. Perkataannya, “Membungkuk dan membuka tali kasutNya pun aku tidak layak,” menunjukkan bahwa YP mengenali Kristus sebagai Allah yang memang harus ditinggikan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memberi prioritas untuk Kristus lebih daripada hobby kita dan hal-hal kesukaan kita lainnya? Mari kita tinggikan Yesus melalui talenta, waktu, uang dan semua yang kita miliki.

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 1 Maret 2020