Don’t Live as a Fool

posted in: Sermon | 0

Amsal 26:1-12 | Pdt. Paulus Surya

26   Like snow in summer or rain in harvest,
    so honor is not fitting for a fool.
  Like a sparrow in its flitting, like a swallow in its flying,
    a curse that is causeless does not alight.
  A whip for the horse, a bridle for the donkey,
    and a rod for the back of fools.
  Answer not a fool according to his folly,
    lest you be like him yourself.
  Answer a fool according to his folly,
    lest he be wise in his own eyes.
  Whoever sends a message by the hand of a fool
    cuts off his own feet and drinks violence.
  Like a lame man's legs, which hang useless,
    is a proverb in the mouth of fools.
  Like one who binds the stone in the sling
    is one who gives honor to a fool.
  Like a thorn that goes up into the hand of a drunkard
    is a proverb in the mouth of fools.
10   Like an archer who wounds everyone
    is one who hires a passing fool or drunkard.
11   Like a dog that returns to his vomit
    is a fool who repeats his folly.
12   Do you see a man who is wise in his own eyes?
    There is more hope for a fool than for him.

Inti berita bagian ini adalah Tuhan menghendaki umat yang telah ditebusNya supaya hidup bijak, yaitu tidak hidup dalam kebebalan. Apa saja ciri-ciri orang bebal yang harus kita waspadai dan atasi?

Mengganggap diri sendiri bijak
Ayat 4-5 menekankan perlunya hikmat untuk berinteraksi dengan orang bebal yang menganggap dirinya bijak. Kadang kita perlu berdiam diri, kadang kita perlu menjawabnya. Ayat 12 mencatat tentang orang yang sangat bebal, “Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak daripada bagi orang itu.” Dalam hidup sehari-hari, orang bebal menunjuk pada orang yang mungkin sukses menurut dunia, tapi menganggap remeh Tuhan dan FirmanNya serta bersandar pada hikmat diri sendiri.

Tidak dapat dipercaya
Ayat 6-7, 10 mencatat tentang orang bebal yang tidak dapat dipercaya. Konteks di sini berbicara tentang orang bebal yang tidak dapat dipercaya dalam hal membawa pesan/Amsal (Firman Tuhan dan Injil). Jadi pada saat kita tidak bertanggungjawab dengan Injil yang dipercayakan kepada kita, kita adalah orang bebal. Oleh sebab itu mari kita jangan malu, takut ditolak, dan berdalih tidak ada waktu untuk bertanggungjawab dalam memberitakan Injil yang dipercayakan kepada kita.

Mengulang-ulang kebodohan
“Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” (ayat 11). Orang bijak bukanlah seorang yang tidak pernah jatuh dalam kesalahan, tapi bila ia jatuh, ia akan bangkit kembali dan bersandar kepada Tuhan untuk tidak mengulangi kesalahannya.

Bagaimana kita dapat berkemenangan atas kebebalan hidup? Dengan senantiasa menyadari bahwa Kristus telah mati menggantikan kita menerima hukuman atas kebebalan kita. Hanya dengan bersandari padaNya, kita akan dimampukan untuk tidak hidup dalam kebebalan.

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 3 Nov 2019

Leave a Reply