Rahasia Ketenangan Jiwa Anak-Anak Allah

posted in: Sermon | 0

Mazmur 131 | Pdt. Yonathan Tjandra

I Have Calmed and Quieted My Soul (Listen)

A Song of Ascents. Of David.

131   O LORD, my heart is not lifted up;
    my eyes are not raised too high;
  I do not occupy myself with things
    too great and too marvelous for me.
  But I have calmed and quieted my soul,
    like a weaned child with its mother;
    like a weaned child is my soul within me.
  O Israel, hope in the LORD
    from this time forth and forevermore.

 

A survey published in 2016 showed that 5.9 in 100 people suffer with a generalised anxiety disorder, while 7.8 in 100 live with mixed anxiety and depression. Though there are many people living with anxiety, it’s often men who struggle to seek help. According to the Mental Health Foundation, suicide is the leading cause of death among young people aged 20-34 years in the UK and it is considerably higher in men, with three times as many men dying as a result of suicide compared to women. It is the leading cause of death for men under 50 in the UK (https://metro.co.uk/2018/02/01/men-open-up-about-living-with-anxiety-7278471/?ito=cbshare).

 

Mazmur ini sebenarnya salah satu mazmur yang tersingkat, tetapi Spurgeon berkata: “Quick to read, but long to live it.” Betapa sungguh kita harus mengakui, tidak mudahnya menenangkan jiwa kita, selama kita hidup.

 

Tetapi apa yang dilakukan pemazmur di dalam Mazmur ini, sepertinya membuat kita iri. Bagaimana tidak? Di dalam ayat 2 pemazmur berkata, “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku,” mengandung makna hurufiah bahwa pemazmur telah membuat hatinya menjadi rata tidak bergejolak (to be motionless). Bagaimana pemazmur akhirnya dapat memiliki jiwa yang seperti itu?

Pemazmur mengarahkan doanya kepada Tuhan yang adalah Tuannya.
Kesediaan hanya berharap kepada Tuhan, dimulai ketika focus perhatian kita hanya kepada Allah. Pemazmur berdoa kepada Allah, suatu ucapan syukur bahwa dia “tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong…” (Bahasa aslinya, kebanggaan diri yang memimpin seseorang kepada perbuatan jahat).

 

Janganlah kita disibukkan dengan banyak memikirkan perkara-perkara yang terlalu besar
Bersyukur atau menenangkan jiwa menurut Alkitab, tidak hanya berhenti membereskan pikiran kita; pemazmur disini mengajak kita melakukan yang lebih, yaitu janganlah kita disibukkan dengan banyak memikirkan perkara-perkara yang terlalu besar (ay 1, “I do not concern myself with great matters”). Sebaliknya Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Kolose mengajak jemaat Kolose dan kita hari ini untuk “memikirkan perkara yang di atas, bukan yang dibumi” (Kol 3:2). Mengapa? Jawabannya ada pada ayat 3, “Sebab kamu telah mati, dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.”

Ringkasan kotbah kebaktian Minggu Pdt. Yonathan Chandra, 26 Mei 2019

Leave a Reply