Menjadi Murid Yesus

posted in: Sermon | 0

Lukas 14:25-35 | Pdt. Erick Kartawijaya

The Cost of Discipleship (Listen)

25 Now great crowds accompanied him, and he turned and said to them, 26 “If anyone comes to me and does not hate his own father and mother and wife and children and brothers and sisters, yes, and even his own life, he cannot be my disciple. 27 Whoever does not bear his own cross and come after me cannot be my disciple. 28 For which of you, desiring to build a tower, does not first sit down and count the cost, whether he has enough to complete it? 29 Otherwise, when he has laid a foundation and is not able to finish, all who see it begin to mock him, 30 saying, ‘This man began to build and was not able to finish.’ 31 Or what king, going out to encounter another king in war, will not sit down first and deliberate whether he is able with ten thousand to meet him who comes against him with twenty thousand? 32 And if not, while the other is yet a great way off, he sends a delegation and asks for terms of peace. 33 So therefore, any one of you who does not renounce all that he has cannot be my disciple.

Salt Without Taste Is Worthless (Listen)

34 “Salt is good, but if salt has lost its taste, how shall its saltiness be restored? 35 It is of no use either for the soil or for the manure pile. It is thrown away. He who has ears to hear, let him hear.”

Banyak orang mengikuti Yesus dalam perjalananNya. Lalu Yesus mengingatkan mereka untuk menjadi muridNya, bukan hanya pengikut saja (v.25-27,33). Hal apa sajakah yang membedakan murid Yesus dari yang hanya mengikutiNya?

1. Mengasihi Yesus lebih dari yang lain (v.26-27)
Kata ‘membenci’ (v.26) disini dipakai untuk mengajarkan mereka agar tidak mengasihi yang lain itu lebih dari mengasihi Yesus. Karena Yesus tidak akan mengajarkan hal yang bertentangan dengan hukum Allah dan yang diajarkanNya tentang mengasihi orang tua, pasangan hidup, sesama dan diri sendiri (Matius 15:4; 19:5; 22:39). Tetapi Yesus menyatakan bahwa murid Yesus pasti akan mengasihi Dia lebih dari yang lain, bahkan dari nyawanya sendiri (memikul salib), sama seperti Yesus telah mengasihinya dengan menderita dan mati baginya (Lukas 9:22-25).

2. Mengikuti Yesus sampai akhir (v.28-30)
Menjadi murid Yesus berarti juga mengikuti Dia sampai akhir. Yesus adalah dasar/awal hidupnya sebagai muridNya (1Korintus 3:11). Yesus telah membayar lunas tebusan bagi umatNya (Ibrani 10:10). Yesus juga akan menjaga, menuntun dan memelihara mereka sampai pada akhirnya (Filipi 1:6). Karena itu, murid Yesus pasti terus akan ada bersama-Nya dan bersama dengan para murid lain sampai akhirnya (1Yohanes 2:19; Ibrani 10:38-39). Kalaupun terjatuh, dia akan bangun kembali (Mazmur 37:23-24).

3. Bersandar kepada Yesus (v.31-33)
Menjadi murid Yesus berarti menyadari keterbatasan dirinya dan mengandalkan Yesus dalam menghadapi tantangan atau lawan; seperti mengandalkan Yesus untuk keselamatannya. Karena tak ada yang tak mungkin bagi Allah (Lukas 18:25-27). Tapi sebagai murid, kita dilibatkan untuk melakukannya (Efesus 2:10).
Ketiga hal tersebut bagaikan rasa asin pada garam. Tanpa itu, maka garam bukan lagi garam, tak ada gunanya dan hanya akan dibuang (v.34-35). Hal ini mengingatkan kita agar jangan hanya mengikut, tetapi jadilah murid yang mengasihi Yesus lebih dari yang lain, setia mengikut Dia sampai akhir dan mengandalkan/bersandar kepada kekuatan dan kuasa anugerahNya.

Ringkasan kotbah Pdt. Erick Kartawijaya, tanggal 28 April 2019

Leave a Reply