Envy

posted in: Sermon | 0

Amsal 14:30 | Pdt. Paulus Surya

30   A tranquil heart gives life to the flesh,
    but envy makes the bones rot.

 

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Iri hati adalah perasaan tidak suka melihat orang lain mendapatkan lebih dari kita. Lebih suka melihat orang lain jauh lebih menderita dari diri kita. 

Jika iri hati tidak diatasi maka akan “membusukkan tulang”. Yaitu membuat diri kita stress, tidak bisa bersyukur, tidak tenang bahkan bisa membuat kita melakukan kejahatan lainnya (lihat Yakobus 3:16). Bagaimana kita dapat mengatasi iri hati?

 

By realising that envy is a sin
Kitab Amsal mencatat dua kali perintah untuk kita jangan iri hati (3:31 & 23:17). Iri hati juga termasuk pelanggaran terhadap hukum kesepuluh. Dalam Perjanjian Baru, banyak dicatat tentang contoh-contoh dosa dan termasuk di dalamnya adalah iri hati (Galatia 5:19-20). Dengan kita menyadari bahwa iri hati merupakan dosa, maka sudah seharusnya kita sebagai orang percaya menghindarinya.

By controlling our heart
Internet banyak memberikan usulan dari para psikolog tentang cara mengatasi iri hati. Salah satunya adalah dengan mengalihkan pikiran kita kepada hal lain yang lebih berguna. Tapi hal ini sebenarnya tidak menyelesaikan masalah karena iri hati merupakan masalah hati. Jadi cara untuk mengatasi iri hati adalah dengan mengendalikan hati kita. Bagaimana caranya? Yaitu dengan “dalam hatiku aku menyimpan janjiMu supaya aku tidak berdosa kepadaMu” (Mazmur 119:11).

By focusing on Jesus
Keadaan yang berlawanan dengan iri hati digambarkan dalam Amsal 14:30 ini sebagai “hati yang tenang”. Kata “tenang” di sini adalah kata lain untuk damai (peace). Untuk memperolehnya maka kita perlu memiliki fokus kepada sang Raja Damai yaitu Yesus Kristus sendiri. Dengan berfokus kepada Yesus kita bukan hanya bisa mengatasi iri hati, namun kita juga bisa hidup menjadi berkat bagi orang lain dan juga memuliakan nama Tuhan. Jadi apakah kita masih mau iri hati? No way!

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 31 Maret 2019 (Family Worship Week)