Listen To The Wisdom

posted in: Sermon | 0

Amsal 8:12, 22-36 | Pdt. Paulus Surya

12   “I, wisdom, dwell with prudence,
    and I find knowledge and discretion.

22   “The LORD possessed me at the beginning of his work,
    the first of his acts of old.
23   Ages ago I was set up,
    at the first, before the beginning of the earth.
24   When there were no depths I was brought forth,
    when there were no springs abounding with water.
25   Before the mountains had been shaped,
    before the hills, I was brought forth,
26   before he had made the earth with its fields,
    or the first of the dust of the world.
27   When he established the heavens, I was there;
    when he drew a circle on the face of the deep,
28   when he made firm the skies above,
    when he established the fountains of the deep,
29   when he assigned to the sea its limit,
    so that the waters might not transgress his command,
  when he marked out the foundations of the earth,
30     then I was beside him, like a master workman,
  and I was daily his delight,
    rejoicing before him always,
31   rejoicing in his inhabited world
    and delighting in the children of man.
32   “And now, O sons, listen to me:
    blessed are those who keep my ways.
33   Hear instruction and be wise,
    and do not neglect it.
34   Blessed is the one who listens to me,
    watching daily at my gates,
    waiting beside my doors.
35   For whoever finds me finds life
    and obtains favor from the LORD,
36   but he who fails to find me injures himself;
    all who hate me love death.”

“Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan.” (ayat 12). Hikmat di sini bukan hanya tentang pengetahuan/kebenaran tapi juga pribadi dari kebenaran. Hampir semua tafsiran injili menghubungkan hikmat di sini dengan pribadi Allah sendiri yaitu Yesus Kristus (lihat 1 Korintus 1:24, 30). Jika hikmat di sini menunjuk kepada Kristus, mengapa dikatakan “Tuhan telah menciptakan aku?” (ayat 22). Kata “menciptakan” memiliki pengertian “memiliki” (ESV, KJV). Bagi penafsir yang mempertahankan kata “menciptakan”, bukan berarti Yesus diciptakan, tapi di sini adalah bahasa puisi yang mau menunjukkan bahwa Yesus sudah ada sebelum alam semesta ada.

Inti berita Amsal 8:22-36 adalah: jika kita meresponi dengan benar hikmat Tuhan (Yesus), maka kita pasti hidup dalam berkat Tuhan yang sejati. Bagaimana meresponi dengan benar?

Memelihara jalan-jalan Tuhan (ayat 32)
“Hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku.” Mendengarkan hikmat di sini dalam pengertian kita mau memelihara kebenaran Firman, yaitu melakukan dalam hidup ini.

Tidak mengabaikannya (ayat 33)
“Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak, janganlah mengabaikannya.” Mendengarkan hikmat di sini dalam pengertian kita menganggapnya serius, penting, dan tidak
menganggap enteng. Kita perlu menempatkan hal-hal yang berhubungan dengan Yesus dan firmanNya di tempat yang penting, lebih penting daripada hal-hal materi yang sementara di dunia ini.

Merindukan tuntunan Tuhan tiap-tiap hari (ayat 34)
“Berbahagialah orang yang mendengarkan daku, yang setiap hari mengunggu pada pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku.” Latar belakang ayat ini menunjuk kepada rakyat
yang mencintai rajanya, yang menunggu di pintu gerbang istana, untuk mendengar berita penting dari sang raja. Gambaran ini dipakai untuk menunjuk kepada orang percaya yang seharusnya juga rindu memahami tuntunan Tuhan tiap-tiap hari. Memahami bukan hanya konsumsi pengetahuan, tetapi yang lebih penting adalah untuk dipraktekkan.

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, tanggal 3 Feb 2019