Keeping God’s Commands

posted in: Sermon | 0

Amsal 7:1-5 | Pdt. Paulus Surya

Warning Against the Adulteress (Listen)

  My son, keep my words
    and treasure up my commandments with you;
  keep my commandments and live;
    keep my teaching as the apple of your eye;
  bind them on your fingers;
    write them on the tablet of your heart.
  Say to wisdom, “You are my sister,”
    and call insight your intimate friend,
  to keep you from the forbidden woman,
    from the adulteress with her smooth words.

Inti berita bagian ini adalah: “Berpegang pada perintah-perintah Tuhan adalah rahasia hidup berkemenangan atas berbagai jerat dosa.”

Meskipun konteks Amsal 7 ini berbicara tentang dosa perzinahan, tapi secara prinsip, berpegang pada perintah-perintah Tuhan adalah rahasia yang berlaku untuk mengatasi berbagai jerat dosa lainnya. Bagaimana caranya agar kita dapat berpegang pada perintah-perintah Tuhan?

Remember: We are God’s children
“Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku…” (ayat 1). Siapa anak yang bisa melakukan dengan sempurna perintah-perintah Tuhan? Hanya satu orang, yaitu Yesus sebagai Anak Allah. Yang menarik dalam Yohanes 1:12, Yesus mengatakan bahwa barangsiapa percaya kepadaNya dijadikan anak-anak Allah yang diberiNya kuasa untuk hidup berpegang pada perintahNya. Dengan kesadaran sebagai anak Allah, kita baru bisa melakukan perintah Tuhan dengan benar, yaitu dengan kasih dan sukacita, bukan dengan takut dan rasa tidak aman.

God’s commands are precious
Istilah “berpeganglah” & “simpanlah” yang diulang-ulang, dan juga istilah “tambatkanlah” & “tulislah” (ayat 1-3) menunjukkan betapa pentingnya hidup taat kepada perintah-perintah Tuhan. Lebih penting daripada emas dan perak. Amsal 8:10 mengatakan “Terimalah didikanku, lebih daripada perak, dan pengetahuan lebih daripada emas pilihan.”

Intimate relationship with the Lord
“Katakanlah kepada hikmat: engkaulah saudaraku dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu.” (ayat 4). Istilah saudara dan sanak menunjukkan hubungan yang dekat. Hanya dekat
dengan Tuhan dan FirmanNya kita akan diberi kekuatan untuk mengatasi berbagai jerat dosa.

Penulis Amsal 7 adalah raja Salomo. Seorang yang paling berhikmat pada zamannya. Tapi sayang di masa tuanya, ia sendiri jatuh dalam jerat dosa perzinahan. Ini menunjukkan
bahwa ia tetap manusia yang lemah. Hanya Sang Raja Israel sejati yang sanggup melakukannya dengan sempurna. Dalam hidup bersandar padaNya, kita akan dimampukan untuk hidup berkemenangan atas berbagai jerat dosa.

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, tanggal 27 Januari 2019