Right Responses to the Greatest Blessing

posted in: Sermon | 0

Ibrani 10:19-25 | Pdt. Paulus Surya

The Full Assurance of Faith (Listen)

19 Therefore, brothers, since we have confidence to enter the holy places by the blood of Jesus, 20 by the new and living way that he opened for us through the curtain, that is, through his flesh, 21 and since we have a great priest over the house of God, 22 let us draw near with a true heart in full assurance of faith, with our hearts sprinkled clean from an evil conscience and our bodies washed with pure water. 23 Let us hold fast the confession of our hope without wavering, for he who promised is faithful. 24 And let us consider how to stir up one another to love and good works, 25 not neglecting to meet together, as is the habit of some, but encouraging one another, and all the more as you see the Day drawing near.

The greatest blessing, yaitu relasi yang dipulihkan dengan Allah melalui Yesus, harus diresponi dengan benar. Dalam bagian ini, ada 4 ajakan “marilah” (ayat 22-25) yang memanggil kita untuk meresponi the greatest blessing ini.

Menghadap Allah dengan keberanian dan kekudusan
“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklhas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan…” (ayat 22). Menghadap Allah di sini
bentuknya bisa menunjuk pada ibadah bersama, ibadah pribadi, dalam pekerjaan, dalam studi dan hidup sehari-hari. Semua ini sudah seharusnya kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita hanya bisa menghadap Allah karena anugerah dalam Kristus.

Memegang teguh kebenaran Firman Tuhan
“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya, setia.” (ayat 23). Himbauan ini penting karena penerima surat Ibrani sedang
dalam tekanan, aniaya dan ajaran sesat Yudaisme yang mau mempengaruhi jemaat Tuhan. Apapun tantangan hidup yang kita hadapi, marilah kita terus berpegang kepada kebenaran
Firman Tuhan, karena berkat terbesar dalam Kristus telah diberikan kepada kita.

Memperhatikan satu sama lain
2 kata “marilah” di ayat 24-25 adalah dalam konteks persekutuan antar sesama saudara seiman. Penulis Ibrani mengajak kita untuk “saling memperhatikan” dengan tujuan “supaya kita saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik”. Bagaimana caranya? Ayat 25 mencatat yaitu supaya kita tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah dan kita saling menasihati dengan giat menjelang hari Tuhan yang mendekat. Bentuk saling memperhatikan bisa dalam hal saling memberikan encouragement tapi bisa juga berbentuk teguran/nasihat. Mulailah saling memperhatikan dari kehidupan rumah tangga, kemudian persekutuan di gereja, bahkan memperhatikan juga orang-orang yang masih belum percaya Kristus.

 

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 6 Jan 2019.