Subtle Wickedness

posted in: Sermon | 0

Nehemiah 13:1-9, 17, 27 | Pdt. Paulus Surya

Nehemiah's Final Reforms (Listen)

13 On that day they read from the Book of Moses in the hearing of the people. And in it was found written that no Ammonite or Moabite should ever enter the assembly of God, for they did not meet the people of Israel with bread and water, but hired Balaam against them to curse them—yet our God turned the curse into a blessing. As soon as the people heard the law, they separated from Israel all those of foreign descent.

Now before this, Eliashib the priest, who was appointed over the chambers of the house of our God, and who was related to Tobiah, prepared for Tobiah a large chamber where they had previously put the grain offering, the frankincense, the vessels, and the tithes of grain, wine, and oil, which were given by commandment to the Levites, singers, and gatekeepers, and the contributions for the priests. While this was taking place, I was not in Jerusalem, for in the thirty-second year of Artaxerxes king of Babylon I went to the king. And after some time I asked leave of the king and came to Jerusalem, and I then discovered the evil that Eliashib had done for Tobiah, preparing for him a chamber in the courts of the house of God. And I was very angry, and I threw all the household furniture of Tobiah out of the chamber. Then I gave orders, and they cleansed the chambers, and I brought back there the vessels of the house of God, with the grain offering and the frankincense.

17 Then I confronted the nobles of Judah and said to them, “What is this evil thing that you are doing, profaning the Sabbath day?

27 Shall we then listen to you and do all this great evil and act treacherously against our God by marrying foreign women?”

 

Nehemia 13 mengajarkan bahwa sebagai orang yang telah menerima kasih karunia Allah, kita harus waspada dan menjauhi dosa/kejahatan yang tidak kentara, yang dapat merusak iman kita. Saat itu bangsa Israel telah Tuhan pimpin kembali dari pembuangan di Babel ke Yerusalem (ini adalah gambaran bagi kita orang percaya yang telah Tuhan selamatkan dari
perbudakan dosa). Saat itu bangsa Israel juga telah selesai membangun kembali tembok Yerusalem. Juga Tuhan pernah mengubah kutuk menjadi berkat bagi mereka (ayat 2). 

 

Semua ini adalah kasih setia Tuhan yang besar terhadap bangsa Israel (ayat 22). Meskipun demikian, mereka jatuh pada kejahatan yang tidak kentara, yang tercatat di ayat 7,17 & 27. Apa saja?

Pergaulan yang buruk (ayat 7)
Saat itu imam El Yasib yang bertanggung-jawab untuk mengatur pemakaian ruangan di rumah Allah, memberi tempat bagi Tobia. Tobia adalah seorang yang jahat yang menjadi musuh umat Tuhan. Nehemia dengan tegas mengusir Tobia supaya tidak memberi pengaruh yang buruk terhadap umat Tuhan (bandingkan dengan 1 Korintus 15:33).

Ketamakan (ayat 17)
Nehemia menegur pemuka-pemuka Yehuda yang melanggar kekudusan hari Sabat. Pada intinya karena ketamakan, mereka tidak memberi persembahan sebagaimana seharusnya dan memakai hari Sabat untuk bekerja mencari uang. Hal seperti ini merupakan kejahatan yang jika dibiarkan, akan merusak hidup iman kita. Sejauh mana kita memakai uang kita untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan memakai hari Sabat bukan untuk bekerja tetapi untuk beribadah kepada Tuhan?

Perkawinan yang tidak kudus (ayat 27)
Hal yang tidak kudus dalam perkawinan seperti pornografi, percabulan, perselingkuhan dll merupakan kejahatan yang dapat merusak hidup iman seseorang. Bentuk yang dimaksud sebagai perkawinan yang tidak kudus di sini adalah berpasangan dengan orang yang tidak seiman (lihat Ulangan 7:1-6 & 2 Korintus 6:14).

Untuk kita bisa mengatasi kejahatan-kejahatan yang tidak kentara ini, kita harus bersandar pada kasih karunia Tuhan.

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 17 Juni 2018 .