Living in the Light of Eternity

posted in: Sermon | 0

2 Korintus 4:16-18, 5:1-10 | Pdt. Paulus Surya

16 So we do not lose heart. Though our outer self is wasting away, our inner self is being renewed day by day. 17 For this light momentary affliction is preparing for us an eternal weight of glory beyond all comparison, 18 as we look not to the things that are seen but to the things that are unseen. For the things that are seen are transient, but the things that are unseen are eternal.

Our Heavenly Dwelling

For we know that if the tent that is our earthly home is destroyed, we have a building from God, a house not made with hands, eternal in the heavens. For in this tent we groan, longing to put on our heavenly dwelling, if indeed by putting it on we may not be found naked. For while we are still in this tent, we groan, being burdened—not that we would be unclothed, but that we would be further clothed, so that what is mortal may be swallowed up by life. He who has prepared us for this very thing is God, who has given us the Spirit as a guarantee.

So we are always of good courage. We know that while we are at home in the body we are away from the Lord, for we walk by faith, not by sight. Yes, we are of good courage, and we would rather be away from the body and at home with the Lord. So whether we are at home or away, we make it our aim to please him. 10 For we must all appear before the judgment seat of Christ, so that each one may receive what is due for what he has done in the body, whether good or evil.

 

Jika kita orang percaya hidup dengan perspektif kekekalan, maka meskipun kita menghadapi tantangan hidup, kita tidak akan tawar hati.

 

Kebenaran ini dialami oleh rasul Paulus. Ia “tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.” (ayat 18). Hidup dengan perspektif kekekalan itu adalah hidup yang seperti apa?

Fokus pada hal-hal rohani

Bukan berarti hal jasmani tidak penting, tapi hal rohani jauh lebih penting karena bersifat kekal. Dengan kita memiliki kerohanian yang makin kuat, maka kita bisa tidak tawar hati pada saat tubuh jasmani kita makin merosot. “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” (ayat 16).

Melihat penderitaan karena Kristus sebagai hak istimewa

Rasul Paulus dalam pelayanannya banyak mengalami berbagai-bagai penderitaan (2 Korintus 11:23-29). Namun ia mengatakan bahwa penderitaannya ringan dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang Tuhan sediakan baginya (ayat 17). Bahkan ia menyebutkan bahwa menderita untuk Kristus adalah anugerah (Filipi 1:29). Saat kita melayani, baik di gereja maupun di rumah ataupun dalam pekerjaan dan hidup sehari-hari, kita mengalami kesulitan/penderitaan, pikirkan kemuliaan kekal yang Tuhan sediakan bagi kita kelak. Niscaya kita tidak akan tawar hati.

 

Siap menghadapi pengadilan

Allah Rasul Paulus memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kekekalan. Salah satunya adalah pengadilan akhir oleh Kristus. “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus…” (5:10). Keterangan “semua” menunjukkan bahwa baik orang percaya maupun tidak percaya akan menghadap pengadilan Kristus. Namun bagi orang percaya, tidak lagi akan mendapatkan hukuman (lihat Roma 8:1). Pengadilan bagi orang percaya berhubungan dengan upah yang akan diterimanya. Oleh sebab itu, betapa pentingnya bagi setiap kita untuk memastikan memiliki relasi yang benar dengan Kristus dan memakai hidup yang singkat ini untuk memuliakan namaNya.

 

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 31 Desember 2017.

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.