Right Thinking

posted in: Sermon | 0

Filipi 4:8-9 | Pdt. Paulus Surya

Finally, brothers, whatever is true, whatever is honorable, whatever is just, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is commendable, if there is any excellence, if there is anything worthy of praise, think about these things. What you have learned and received and heard and seen in me—practice these things, and the God of peace will be with you.

 

Kesehatan rohani seseorang sangat ditentukan oleh hal-hal yang mengisi dan menguasai pikirannya.

I. Hal-hal apa saja yang seharusnya mengisi pikiran kita? (ayat 8)

a. Yang benar (aletheia). Kata ini biasanya dikontraskan dengan kepalsuan, kebohongan dan kemunafikan. Berpikir yang benar adalah berpikir sesuai Firman.
b. Yang mulia (semnos). Kata ini berarti memikirkan hal-hal yang seperti dipikirkan Kristus (2:3).
c. Yang adil (dikaios). Berpikir sesuai dengan aturan/tidak curang.
d. Yang suci (hagnos). Kata ini kontras dengan hal-hal yang najis, yaitu hal-hal yang bertentangan dengan kesucian Allah.
e. Yang manis (prosphiles). Berpikir untuk bisa menguatkan orang lain dan bukan memikirkan kesalahan-kesalahan orang lain.
f. Yang sedap di dengar (euphema). Kata ini dipakai untuk menunjuk pada hal-hal yang sedap didengar oleh Allah. Misalnya mengucap syukur/tidak bersungut-sungut.
g. Yang disebut kebajikan (arete). Kata ini berhubungan dengan perbuatan baik pada sesama.
h. Yang patut dipuji (epainos). Kata ini menunjuk pada hal-hal yang dapat menjadi kesaksian baik bagi kekristenan maupun kemuliaan nama Tuhan.

8 hal tersebut di atas ini pada dasarnya menunjuk pada diri dan karakter Tuhan Yesus Kristus.

II. Mengapa berpikir benar membuat rohani sehat?

1. Membawa kita bertingkah laku benar. 
Ayat 9 mencatat Rasul Paulus meminta supaya jemaat Filipi melakukan hal-hal yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Rasul Paulus. Melakukan kebenaran harus didahului dengan mengisi pikiran dengan kebenaran.

2. Membawa kita merasakan penyertaan Tuhan.
Ayat 9b mencatat, “maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu”. Pada dasarnya, setiap orang percaya, baik saat berpikir benar atau tidak, tetap disertai
oleh Tuhan. Tetapi penyertaan Tuhan baru bisa kita rasakan dengan nyata pada saat kita berpikir benar dan mentaati kebenaran Firman.

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 13 November 2016.