Living life in light of Jesus’ return

posted in: Sermon | 0

1 Thess 5:1-11 | Pdt. Paulus Surya

The Day of the Lord (Listen)

Now concerning the times and the seasons, brothers, you have no need to have anything written to you. For you yourselves are fully aware that the day of the Lord will come like a thief in the night. While people are saying, “There is peace and security,” then sudden destruction will come upon them as labor pains come upon a pregnant woman, and they will not escape. But you are not in darkness, brothers, for that day to surprise you like a thief. For you are all children of light, children of the day. We are not of the night or of the darkness. So then let us not sleep, as others do, but let us keep awake and be sober. For those who sleep, sleep at night, and those who get drunk, are drunk at night. But since we belong to the day, let us be sober, having put on the breastplate of faith and love, and for a helmet the hope of salvation. For God has not destined us for wrath, but to obtain salvation through our Lord Jesus Christ, 10 who died for us so that whether we are awake or asleep we might live with him. 11 Therefore encourage one another and build one another up, just as you are doing.

 

 

1 Tesalonika 5:1-3 menyatakan bahwa kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya bisa terjadi sewaktu-waktu. Seperti pencuri yang datang di malam hari atau seperti perempuan hamil yang ditimpa sakit bersalin. Kedatangan Tuhan Yesus kedua kali ini seharusnya mendorong kita untuk menjalani hidup yang berbeda dengan orang-orang dunia. Hidup yang seperti apa?

Living according to our identity

Ayat 4-8 menyebutkan identitas orang percaya. Antara lain orang yang tidak hidup dalam kegelapan (ayat 4). Anak-anak terang, anak-anak siang, bukan orang-orang malam dan bukan orang-orang kegelapan (ayat 5). Bukan orang yang tidur secara rohani tapi yang berjaga-jaga dan sadar (ayat 6). Bukan hidup dalam kemabukan (ayat 7). Berbaju-
zirahkan iman dan kasih serta berketopongkan pengharapan keselamatan (ayat 8).

Secure in Christ

Ayat 9-10 mengajarkan bahwa orang percaya sejati tidak akan ditimpa murka Allah. Mengapa? Karena Yesus sudah menggantikan mereka menanggung murka Allah di kayu salib. Dalam Yesus, entah orang percaya berjaga-jaga (sadar), entah mereka tidur (tidak sadar), mereka hidup selalu bersama-sama dengan Yesus. Kenyataan ini seharusnya menjadi penghiburan yang besar bagi orang-orang percaya dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah dalam hidup ini. Sebaliknya dari kebenaran ini, orang yang tidak percaya seharusnya merasa takut akan murka Allah.

Be a blessing to others

Ayat 11 mencatat tentang panggilan Tuhan bagi semua orang percaya untuk hidup bukan bagi dirinya sendiri, tetapi untuk menjadi berkat bagi orang lain. Hidup menjadi berkat bagi orang lain dapat dimulai dari hidup bersama keluarga, hidup bersama saudara-saudara seiman dalam gereja, hidup dengan rekan-rekan di pekerjaan atau kuliah, dan juga hidup dalam masyarakat luas. Hidup menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali harus diisi dengan hidup yang menjadi berkat bagi orang lain sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

 

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 22 November 2015.