The True Church

posted in: Sermon | 0

1 Tesalonika 3:8-13 | Pdt. Paulus Surya

For now we live, if you are standing fast in the Lord. For what thanksgiving can we return to God for you, for all the joy that we feel for your sake before our God, 10 as we pray most earnestly night and day that we may see you face to face and supply what is lacking in your faith?

11 Now may our God and Father himself, and our Lord Jesus, direct our way to you, 12 and may the Lord make you increase and abound in love for one another and for all, as we do for you, 13 so that he may establish your hearts blameless in holiness before our God and Father, at the coming of our Lord Jesus with all his saints.

 

Jemaat Tesalonika adalah Jemaat yang memberi semangat kepada rasul Paulus dalam pelayanannya (3:8). Rasul Paulus bersukacita dan bersyukur atas gereja di Tesalonika (3:9). Kemudian Rasul Paulus berdoa bagi Jemaat di Tesalonika (3:10-13). Dari doanya, kita bisa melihat beberapa ciri gereja Tuhan 

Growing in Faith (3:10-11)

Rasul Paulus berdoa supaya Tuhan membuka jalan, agar dia dapat mengunjungi Jemaat di Tesalonika. Untuk apa? “Untuk menambahkan apa yang masih kurang pada iman-mu”. Kata ‘menambahkan’ berarti memperbaiki/membereskan (Markus 1:19). Ini berbicara tentang iman dalam kaitan dengan hidup sehari-hari. Jadi yang dimaksud dengan ‘bertumbuh dalam iman’ adalah saat kita orang beriman menjadikan kebenaran Firman sebagai dasar bagi hidup sehari-hari kita.

Growing in Love (3:12)

Bertumbuh dalam kasih mencakup dua hal: kasih terhadap saudara seiman dan kasih terhadap semua orang yang masih di luar Kristus. Dua hal ini merupakan hal yang sangat penting untuk gereja dapat berfungsi sebagai garam dan terang di dunia ini. Rasul Paulus bukan hanya berdoa bagi Jemaat di Tesalonika tentang hal ini, tetapi dia sendiri melakukannya. Dia berkata: “Sama seperti kami mengasihi kamu”.

Growing in Holiness (3:13)

“Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tidak bercacat dan kudus di hadapan Allah dan Bapa kita.” Sejak seseorang menerima Yesus sebagai Juru-selamatnya, maka status orang tersebut menjadi “tidak bercacat dan kudus” di hadapan Allah. Sebagai tandanya, orang tersebut akan bertumbuh makin hidup dalam kekudusan. Sejauh mana kita telah hidup dalam kekudusan sebagai buah dari hidup yang telah diselamatkan/dikuduskan?

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 18 Oktober 2015.