Knowing God

posted in: Sermon | 0

Yesaya 6:1-8 | Pdt. Paulus Surya

Isaiah's Vision of the Lord (Listen)

In the year that King Uzziah died I saw the Lord sitting upon a throne, high and lifted up; and the train of his robe filled the temple. Above him stood the seraphim. Each had six wings: with two he covered his face, and with two he covered his feet, and with two he flew. And one called to another and said:

  “Holy, holy, holy is the LORD of hosts;
  the whole earth is full of his glory!”

And the foundations of the thresholds shook at the voice of him who called, and the house was filled with smoke. And I said: “Woe is me! For I am lost; for I am a man of unclean lips, and I dwell in the midst of a people of unclean lips; for my eyes have seen the King, the LORD of hosts!”

Then one of the seraphim flew to me, having in his hand a burning coal that he had taken with tongs from the altar. And he touched my mouth and said: “Behold, this has touched your lips; your guilt is taken away, and your sin atoned for.”

Isaiah's Commission from the Lord (Listen)

And I heard the voice of the Lord saying, “Whom shall I send, and who will go for us?” Then I said, “Here I am! Send me.”

Yesaya 6:1 memuat kata “juga” yang tidak dimasukkan dalam terjemahan Bahasa Indonesia. Jadi Yesaya 6:1 berbunyi “Dalam tahun matinya raja Uzia, aku juga melihat Tuhan duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang”. Kalimat ini memiliki pengertian bahwa ditengah Yesaya mengalami problema kematian raja Uzia, dia juga mengenali Tuhan hadir dalam hidupnya dan umatNya. Ini adalah kunci rahasia hidup berkemenangan ditengah berbagai persoalan hidup. Pengenalan akan Tuhan yang bagaimana yang akan membuat kita memiliki kekuatan menjalani hidup yang penuh tantangan, berdasar Yesaya 6:1-8?

Majestic and Powerful
Yesaya melihat “Tuhan duduk di atas tahta”. Pribadi yang duduk di atas tahta adalah pribadi yang mulia (majestic) sekaligus berkuasa (powerful). Pengenalan seperti inilah yang menjadi sumber kekuatan bagi Yesaya dan bagi tiap orang beriman. Pada saat kita menghadapi persoalan hidup, kenalilah juga Allah kita yang mulia dan berkuasa, yang menguasai dan memimpin hidup kita.

Holy and Merciful
Ditengah kematian raja Uzia, Yesaya juga mengenali Allah yang kudus (holy) dan pengampun (merciful). Pada saat Yesaya melihat kekudusan Allah, ia sadar dirinya kotor dan berdosa. Namun Allah yang maha kudus mengutus malaikatNya, menyentuh mulut Yesaya dengan bara dan berkata “kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”. Pengenalan akan Allah sepert ini merupakan sumber kekuatan bagi kita untuk menjalani hidup yang damai dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.

The God who sends us
Allah bukan hanya mengampuni Yesaya, tetapi juga mengutus Yesaya untuk menjadi saksiNya. Kebenaran ini berlaku juga bagi setiap orang percaya. Ditengah persoalan hidup kita, Tuhan mau supaya kita tidak tenggelam di dalamnya, tapi sebaliknya kita mau menerima panggilanNya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Kita adalah utusan Allah untuk menjadi saksiNya “baik atau tidak baik waktunya” (2 Timotius 4:2).

Ringkasan kotbah Pdt. Paulus Surya, 11 Januari 2015