Orang Kristen dan Penderitaannya

posted in: Sermon | 0

1 Peter 3:13-17 | Pdt. Erick Kartawijaya

13 Now who is there to harm you if you are zealous for what is good? 14 But even if you should suffer for righteousness' sake, you will be blessed. Have no fear of them, nor be troubled, 15 but in your hearts honor Christ the Lord as holy, always being prepared to make a defense to anyone who asks you for a reason for the hope that is in you; yet do it with gentleness and respect, 16 having a good conscience, so that, when you are slandered, those who revile your good behavior in Christ may be put to shame. 17 For it is better to suffer for doing good, if that should be God's will, than for doing evil.

 

Jemaat saat itu sedang menghadapi penderitaan karena iman percayanya. Petrus menyatakan bahwa tidak wajar, bila mereka menderita karena rajin berbuat baik, karena melakukan kehendak Tuhan (kebenaran) – bukan karena berbuat jahat. Tetapi hal itu dapat terjadi, karena kedegilan manusia (2:18) dan perkenan Allah (jika Allah menghendaki).

Petrus mengingatkan mereka bahwa: “sekalipun kamu harus menderita juga, kamu akan berbahagia” (3:14). Sebelumnya (3:12), Petrus telah menyampaikan bahwa Tuhan menyertai kehidupan setiap orang percaya dan mengawasi orang yang melakukan aniaya/jahat.

Itulah kebahagiaan setiap orang percaya. Karena itu Petrus mengingatkan, agar kita jangan takut atau kuatir tentang hal -hal yang sementara, seperti harta, kekuasaan, kesehatan, dan lainnya—seperti orang lain. Tuhan tahu kita juga perlu hal tersebut, tapi jangan fokus pada hal itu (Lukas 12:30-31), melainkan fokus kepada kekekalan yang telah terjamin dalam Kristus.

Petrus mengajak jemaat yang menderita, agar:

1. Kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan
Kita diingatkan untuk menempatkan Kristus sebagai Tuhan. Dia yang harus kita taati dan sembah. Dia adalah sandaran hidup dan pengharapan kita. Karena Dia adalah Tuhan yang Maha tahu, Maha baik, berdaulat dan Maha kuasa. Tak ada satu halpun yang lepas dari control Tuhan. Maka kepada Dia saja kita percaya, berharap dan memohon.

2. Siapa sedialah
Kita diingatkan untuk siap memberikan pertanggungan jawab, menjelaskan kepada orang yang bertanya tentang pengharapan kita, karena mereka melihat cara hidup kita yang berbeda. Jelaskan dengan lemah lembut dan hormat. Inilah kesempatan kita untuk bersaksi. Karena itu kita perlu hidup dengan hati nurani yang murni. Pastikan setiap kata dan laku selaras dengan pengharapan kita di dalam Kristus.

Dalam penderitaan/aniaya, kita bisa menjadi patah hati dan putus asa; atau menjadi keras hati dan penuh kepahitan; tetapi Petrus mengingatkan kita agar menjadikannya sebagai kesempatan untuk memurnikan iman percaya (Kristus sebagai Tuhan) dan menjadikan kesempatan untuk bersaksi (Kristus sebagai pengharapan kita).

Ringkasan kotbah Pdt. Erick Kartawijaya, 9 November 2014